SINGKONG adalah salah satu komoditas pangan yang banyak tumbuh di Indonesia. Singkong mudah ditemui di hampir semua daerah di nusantara.
Sebelum beras menjadi bahan pangan pokok yang merata di semua daerah, beberapa daerah di zaman dahulu telah menjadikan singkong sebagai bahan pangan pokok yang utama. Seiring perjalanan waktu, singkong malah menjadi makanan yang dikonotasikan dengan masyarakat ekonomi bawah.
Padahal, banyak keunggulan singkong yang selama ini belum banyak diketahui orang. Mau tahu apa saja? Ini beberapa di antaranya:
1) mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi sebagai sumber tenaga,
2) daun singkong kaya akan vitamin A dan sumber protein penting,
3) menghasilkan energi yang lebih banyak per hektare dibandingkan beras dan gandum,
4) dapat tumbuh di daerah marjinal di mana tanaman lain tidak bisa tumbuh,
5) sebagai sumber pendapatan petani karena bisa dijual sewaktu-waktu, dan
6) dapat disimpan dalam bentuk tepung dan pati.
Keren ya…
Meski demikian, amat disayangkan bila sumber daya hayati singkong selama ini dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kecukupan pangan, khususnya sebagai sumber karbohidrat. Produk olahan singkong yang dikenal masyarakat selalu ditampilkan dalam bentuk cemilan atau jajanan, seperti ubi rebus, bakar, goreng, kripik, getuk atau kolak, yang sejak dulu ada.
Akibatnya, masyarakat selalu menganggap singkong sebagai makanan inferior yang hanya dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah. Hal ini selaras dengan hasil penelitian dari Scott yang menyatakan, pola konsumsi singkong dan ubi jalar adalah berbanding terbalik dengan pendapatannya.
Artinya, semakin banyak mengonsumsi singkong atau ubi jalar, pendapatannya berindikasi semakin kecil. Dengan kata lain, singkong dan ubi jalar dikonotasikan dengan makanan orang berpendapatan rendah. (*)


